Perdagangan Keramik di Banten (abad ke-16 sampai abad ke-19)
Kota pusat Kerajaan Banten semula letaknya di Banten Girang (sebelum tahun 1524), kemudian dipindahkan ke kota Surosowan (Banten Lama) di dekat pantai. Dari sudut politik, pemindahan kota pusat kerajaan ini berarti memudahkan hubungan antara pesisir utara Jawa dengan pesisir Sumatera Barat melalui Selat Sunda dan Samudra Indonesia, karena pada waktu itu Malaka telah dikuasai oleh Portugis.
Berdirinya kota Surosowan sebagai ibukota Kerajaan Banten adalah atas petunjuk dan perintah Sunan Gunung Jati kepada puteranya, Hasannddin, yang kemudian menjadi raja pertama Banten, Hasannuddin dinobatkan menjadi raja pertama Banten pada tahun 1552.
Pada masa pemerintahan raja-raja berikutnya Kerajaan Banten semakin berkembang. Di bawah kekuasaan Sultan Maulana Yusuf, pengganti Hasanuddin, Kerajaan Pajajaran dapat ditaklukkan. Kemudian Sultan Maulana Yusuf digantikan oleh puteranya, Sultan Maulana Muhammad. Sultan Maulana Muhammad merupakan raja yang meluaskan pengaruh agama Islam sampai ke Palembang dan daerah sekitarnya. Sedangkan raja selanjutnya, Sultan Abulmufakhir Mahmud Abdul Kadir adalah Sultan yang arif bijaksana dan menentang penjajahan.
Puncak kebesaran Kerajaan Banten dicapai ketika pemerintahan dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa (tahun 1651-1672). Dibawah pimpinan raja ini Banten mengalami pembangunan besar-besaran, juga pembangunan irigasi dan pengembangan pertanian. Pertikaian politik dengan Belanda semakin meruncing, sehingga Belanda mengambil tindakan melakukan blokade terhadap pelabuhan Banten. Masa pemerintahan Sultan Agen Tirtayasa berakhir setelah terjadi perebutan kekuasaan oleh puteranya, Sultan Haji. Sejak saat itu kerajaan Banten mengalami kemunduran, dan kekuasaan sebenarnya berada di bawah pengaruh Belanda.
Banten merupakan salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda yang telah dikenal sejak abad ke-15. Pada tahun 1513, Belanda telah menjadi pusat pengekspor beras, bahan makanan, dan lada. Dipandang dari segi ekonomi, Banten dianggap sebagai urat nadi pelayaran dan perdagangan di Indonesia bagian selatan dan barat.
Selain dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, Banten terkenal pula dalam perdagangan keramik. Para pedagang yang ikut terlibat dalam perdagangan keramik ini antara lain berasal dari Cina, Siam, Melayu, Jepang, India, dan Arab.
Sejak tahun 1602 Belanda mulai ikut serta dalam perdagangan keramik. Tahun-tahun berikutnya, perdagangan keramik menjadi penting artinya bagi Belanda, sebab permintaan pasaran di Eropa semakin bertambah. Hal ini ditandai dengan didirikannya perwakilan kantor dagang VOC di Banten, yang tugasnya membeli dan mengatur distribusi keramik ke Eropa.
Intensitas tertinggi dalam perdagangan keramik terjadi pada tahun 1614-1616. Sejak tahun 1617 catatan sejarah tidak menyebutkan lagi mengenai pengiriman keramik melalui Banten. Tampaknya peranan Banten sejak saat itu sudah digantikan oleh Batavia. Namun demikian, mungkin Banten masih tetap berperan dalam perdagangan interlokal, dan sebagai pasar untuk kebutuhan sendiri. (Sumber: Majalah Arkeologi, Tahun V No. 1-2, 1982).
Loading...