Buku Biografi
Biografi, Auto Biografi, Budaya, …..

prasasti-kutai

…..Bangsa dengan budaya kuat akan mengalahkan bangsa dengan budaya lemah…..

Koleksi Buku Biografi terdiri dari buku lama atau baru tentang biografi, auto biografi baik lokal maupun luar dan buku-buku budaya. Apabila ada buku biografi yang anda cari tidak ada dalam koleksi kami, silahkan anda sms atau email buku yang anda cari tersebut. Insya Allah kami akan coba bantu untuk mencarinya.

El Lubis
Jalan Kotabaru No 20
Bekasi Barat 17133
email: bukubudaya@gmail.com
SMS: 021 90496263

Ayo Bangun Budaya!

Bangsa dengan budaya kuat akan mengalahkan bangsa dengan budaya lemah.
Hari-hari ini, perhatian saya banyak tertuju ke soal budaya. Lewat buku Island of Java karya John Joseph Stockdale yang terbit pertama tahun 1811, misalnya. Buku itu membantu memahami budaya bangsa ini lebih baik. Walaupun sebenarnya, perhatian Stockdale lebih mengarah pada kehidupan warga Belanda di sini dibandingkan soal budaya kita.

Digambarkannya secara terperinci bagaimana Belanda memonopoli perdagangan di kawasan ini. Rakyat harus menjual produk pertaniannya hanya pada Belanda untuk dapat diekspor. Para raja dan pemimpin daerah telah diikat dengan perjanjian. Mereka harus patuhi ikatan itu dan harus bersedia menjadi ‘anthek’ bila tak ingin dipaksa turun oleh Belanda. Maka jadilah para penguasa kita terdahulu sebagai antek penjajah. Perdagangan bebas yang semula berkembang, seperti di Samudera Pasai, Demak, dan kemudian Banten hingga Ambon, sudah lama dihentikan oleh Jan Pieterzon Coen. Yang tersisa tinggal keterjajahan kita.

Pertanyaannya: Apakah budaya kita begitu lemah dan budaya Belanda begitu kuat sehingga mereka dapat menjajah kita? Ataukah kutipan di atas yang selalu disampaikan dalam kuliah pengantar untuk memahami dasar-dasar teknologi di ITB itu keliru?

Bisa jadi banyak budayawan menolak pandangan itu dengan argumen bahwa kebudayaan kita sangat kaya tanpa bandingan di dunia. Kebhinekaan budaya kita malah dipandang sebagai kekuatan. Itu tergambarkan pada semboyan Bhineka Tunggal Ika yang selalu ‘dicangking’ oleh garuda yang menjadi lambang kita. Pariwisata Indonesia juga memakaiultimate in diversity sebagai slogan.

Alasan itu tampak meyakinkan bahwa budaya bangsa kita kuat. Seolah bangsa kita adalah salah satu bangsa dengan budaya terkuat di dunia. Sebenarnya tidak demikian. Kita memang pernah memiliki budaya kuat. Namun, dalam empat abad terakhir, kekuatan budaya kita itu melemah. Rangkaian kuliah budaya yang saya jalani beberapa waktu terakhir ini pada Rendra kian meyakinkan bahwa budaya kita memang lemah. Karena itu, kita terjajah. Bila budaya kita terjemahkan semata sebagai ungkapan seni, anggapan bahwa budaya kita kuat mungkin ada benarnya. Tetapi, budaya bukan semata urusan berkesenian. Bukan pula, semata persoalan cita rasa. Budaya adalah segenap pemahaman, sikap, serta perilaku manusia baik yang menyangkut cara pandangnya pada Tuhan dan alam semesta; menyangkut filosofi, logika, hingga ilmu pengetahuan; hingga urusan sosial, ekonomi, serta politik. Bangsa-bangsa maju adalah bangsa-bangsa dengan budaya kuat. Kekuatan budaya mereka tercermin pada sikap kebangsaan yang dimilikinya. Keamerikaan bangsa Amerika, ketiongkokan bangsa Tiongkok, keindiaan bangsa India, kejepangan bangsa Jepang, kekoreaan bangsa Korea, bahkan kesingapuraan bangsa Singapura dan kemalaysiaan bangsa malaysia, saat ini masih lebih kuat dibandingkan keindonesiaan kita. Itu yang menjelaskan mengapa kita masih kalah makmur ketimbang mereka. Fenomena Ponari pun sebenarnya sudah cukup buat menjelaskan betapa lemah budaya kita saat ini.

Lebih setengah abad merdeka belum cukup buat memulihkan keruntuhan budaya kita. Berabad-abad merdeka pun juga tak akan begitu saja dapat memulihkan keruntuhan itu bila kita tak sungguh-sungguh berupaya membangunnya kembali budaya bangsa. Kesungguhan itu yang saat ini masih belum terlihat. Setidaknya belum cukup tercermin dalam kampanye partai-partai politik menjelang pemilihan umum nanti. Tidak apa.

Yang terpenting, ayo mulai membangun budaya saat ini juga. Budaya dalam arti yang bukan semata kesenian melainkan budaya yang utuh, yang sekali lagi, meliputi segala pemahaman, sikap, hingga tindakan. Nabi pun diutus ke dunia buat menyempurnakan akhlak. Buitstu li utammima makarimal akhlak. Akhlak adalah istilah agama untuk ‘budaya’. Itu yang akan membuat makmur dunia akhirat.(Zaim Uchrowi)

msjid

No Responses Yet to “”

Leave a Reply